Veronika, Kesadaran akan Kematian


Oleh Ardian Je

Saya baru saja menamatkan membaca novel Veronika Memutuskan Mati (Kepustakaan Populer Gramedia, 2005) karya Paulo Coelho, penulis Brazil yang karya-karyanya laris di pelbagai belahan dunia. Butuh lebih dari sepekan—atau barangkali dua pekan, saya lupa—untuk menamatkan bacaan setebal 258 halaman itu. Sebenarnya itu bukan buku yang tebal. Namun karena stamina membaca saya tengah menurun, jadi buku itu tidak bisa saya tamatkan dalam waktu yang cepat. Padahal, saat saya membaca karyanya yang lain, Sang Alkemis (The Alchemist), saya hanya butuh waktu satu hari, dengan ketebalan yang tidak jauh berbeda.

Eksistensi Diri
Novel ini, dalam hemat saya, merupakan sebuah novel yang menceritakan tentang pergulatan batin para tokoh di dalamnya, tentang eksistensi diri. Pertanyaan terkait hidup dan segala macamnya ajeg mengisi jalan pikiran para tokohnya. Sebagai tokoh utama, Veronika yang bekerja sebagai pustakawan memutuskan bunuh diri dengan meminum pil penenang dalam jumlah yang banyak. Tidak seorang pun bisa menghakimi. Setiap orang mengetahui batas ketabahannya, atau mengetahui hidupnya bermakna atau tidak (halaman 19).
            Setelah melakukan percobaan bunuh diri, Veronika tak sadarkan diri. Sialnya, bagi Veronika, ada seseorang yang menemukannya, yang membawanya ke Vilette, sebuah rumah sakit jiwa yang baru berdiri di kotanya, Ljubljana, ibukota Slovenia (dalam novel ini Slovenia dikisahkan sebagai sebuah negara yang tidak dikenal banyak orang, dan ini menjadi salah satu kekecewaan Veronika dan alasannya mencoba bunuh diri). Vilette sendiri tengah membutuhkan banyak pasien untuk eksistensi dan citra sebagai rumah sakit jiwa pilhan masyarakat.
            Veronika koma berhari-hari. Setelah sadar, ia bertemu orang-orang baru di rumah sakit jiwa itu. Kata Dr. Igor, Veronika tidak akan lama hidup di dunia ini, akibat percobaan bunuh dirinya itu. Namun,  Zedka, Mari, anggota Persaudaraan dan Eduard membuat Veronika berpikir ulang tentang kehidupan, di pintu kematiannya.

Mayoritas dan “Kebenaran”
Di Vilette, Veronika dan orang-orang yang di rawat di sana mendapatkan kebebasan. Semua orang yang dirawat, meskipun tidak semuanya sakit jiwa atau gila, bebas melakukan apa pun, tanpa harus mempedulikan orang lain, asalkan tidak mengganggu orang lain. Orang gila bebas melakukan apa pun tanpa harus takut dicap aneh, sebab mereka adalah orang gila.
            Dengan begitu, semua orang bebas menjadi diri sendiri, tanpa tedeng aling-aling, tanpa harus mengikuti atura-aturan yang kaku, konyol ataupun yang dianggap miring oleh masyarakat. Di Vilette, semua bebas.
            Di sinilah, Coelho mengatakan, apa yang dianggap orang kebanyakan benar itu bisa ditepis. Yang dikatakan mayoritas tidak selalu benar dan mengandung kebenaran.

Psikiatri, Spiritual, Cinta
Dalam novel ini pula, terdapat informasi-informasi mengenai dunia psikiatri, mengingat novel ini menyajikan setting tempat rumah sakit jiwa dengan tokoh orang-orang gila. Penyambung informasi mengenai hal ini ialah tokoh Dr. Igor, psikiater yang sedang melakukan penelitian untuk tesisnya.
            Pembelajaran-pembelajaran mengenai dunia spiritual pun dibahas di sini melalui tokoh-tokoh yang tergabung dalam anggota Persaudaraan. Sekelompok orang yang menamai diri mereka Persaudaraan ini rutin menggelar diskusi mengenai dunia spiritual; cinta, iman, sufi, Tuhan. Sufisme adalah tradisi spiritual kaum darwis. Para gurunya tidak pernah menonjolkan betapa arifnya mereka, dan para muridnya hilang kesadaran akibat gerakan tarian berputar-putar (halaman 123).
            Mereka juga sering membahas fenomena-fenomena kemanusiaan yang terjadi di dunia luar (sumber informasi mereka dari televisi).  Namun sayang, yang mereka lakukan hanya sebatas diskusi yang tak pernah ditindaklanjuti. Di sini lain, mereka adalah orang-orang yang rapuh, kalah dan takut menghadapi dunia.
            Novel ini lebih hidup dengan adanya kisah cinta yang terjadi antara Veronika dan Eduard, lelaki yang berpura-pura menderita skizofrenia. Veronika, dan kebanyakan orang, menganggap Eduard benar-benar menderita skizofrenia. Padahal tidak demikian. Di hari-hari terakhir Veronika hidup, Veronika menemukan sebuah arti hidup di mata kosong Eduard.
            Berkat Eduard, Veronika bersemangat kembali untuk hidup dan melakukan hal-hal gila yang tidak pernah dilakukannya semasa sehat. Veronika jadi berani melakukan hal-hal yang diinginkan bersama Eduard.
            Pun dengan Eduard. Veronika membuatnya berhenti berpura-pura menderita skizofrenia dan menemukan makna hidup.   
            Dari sisi bahasa, novel yang diterjemakan oleh Lina Jusuf ini terbilang bagus. Pembaca tidak ruwet dengan kalimat-kalimat yang disajikan, serta tidak menenggelamkan kata-kata bijak dan maknanya yang digunakan Paulo Coelho.
Bojonegara, 5 Juni 2017
Ardian Je, relawan Rumah Dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelatihan Menulis Puisi dan Cerpen di SMAIT Raudhatul Jannah Cilegon

Camat Ikhsan dan Pemimpin yang Dirindukan Banten

Bolu Kukus Legit dari Parahyangan